Kamis, 19 Juni 2014

PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH: KESIAPAN SEKOLAH

2.1 Definisi Anak Prasekolah Anak prasekolah atau anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya, yang berada pada retang usia 0-8 tahun. 2.2 Aspek Perkembangan Anak Usia Dini Catron dan Allen menyebutkan bahwa terdapat 6 aspek perkembangan anak usia dini, yaitu kesadaran personal, kesehatan emosional, sosialisasi, komunikasi, kognisi dan keterampilan motorik sangat penting dan harus dipertimbangkan sebagai fungsi interaksi. 1. Kesadaran Personal Permainan yang kreatif memungkinkan perkembangan kesadaran personal. Bermain mendukung anak untuk tumbuh secara mandiri dan memiliki kontrol atas lingkungannya. Melalui bermain anak dapat menemukan hal yang baru, bereksplorasi, meniru, dan mempraktikan kehidupan sehari-hari sebagai sebuah langkah dalam membangun keterampilan menolong dirinya sendiri, keterampilan ini membuat anak merasa kompeten. 2. Pengembangan Emosional Melalui bermain anak dapat belajar menerima, berekspresi dan mengatasi masalah dengan cara yang positif. Bermain juga memberikan kesempatan pada anak untuk mengenal diri mereka sendiri dan untuk mengembangkan pola perilaku yang memuaskan dalam hidup. 3. Membangun Sosialisasi Bermain memberikan jalan bagi perkembangan sosial anak ketika berbagi dengan anak lain. Bermain adalah sarana yang paling utama bagi pengembangan kemampuan bersosialisasi dan memperluas empati terhadap orang lain serta mengurangi sikap egosentrisme. Bermain dapat menumbuhkan dan meningkatkan rasa sosialisasi anak. Melalui bermain anak dapat belajar perilaku prososial seperti menunggu giliran, kerja sama, saling membantu dan berbagi. 4. Pengembangan Komunikasi Bermain merupakan alat yang paling kuat untuk pengembangan kemampuan berbahasa anak. Melalui komunikasi inilah anak dapat memperluas kosakata dan mengembangkan daya penerimaan serta pengekspresian kemampuan berbahasa mereka melalui interaksi dengan anak-anak lain dan orang dewasa pada situasi bermain spontan. Secara spesifik, bermain dapat memajukan perkembangan dari segi komunikasi berikut ini: (1) bahasa reseptif, yaitu mengikuti petunjuk-petunjuk dan memahami konsep dasar, (2) bahasa ekspresif, yaitu kebutuhan mengekspresikan keinginan, perasaan, penggunaan kata-kata, frase-frase, kalimat, dan berbicara secara jelas, (3) komunikasi nonverbal, yaitu pengguanaan komunikasi kongruen, ekspresi muka, isyarat tubuh, isyarat tangan, dan (4) memori pendengaran/ pembedaan, yaitu memahami bahasa bicara dan membedakan bunyi. 5. Pengembangan Kognitif Bermain dapat memenuhi kebutuhan anak untuk secara aktif terlibat dengan lingkungan, untuk bermain dan bekerja dalam menghasilkan suatu karya, serta untuk memenuhi tugas-tugas perkembangan kognitif lainnya. Selama bermain, anak menerima pengalaman baru, memanipulasi bahan dan alat, berinteraksi dengan orang lain dan mulai merasakan dunia mereka. Bermain menyediakan kerangka kerja untuk anak untuk mengembangkan pemahaman tentang diri mereka sendiri, orang lain dan lingkungan. 6. Pengembangan Kemampuan Motorik Kesempatan yang luas untuk bergerak, pengalaman belajar untuk menemukan aktivitas sensori motor yang meliputi penggunaan otot-otot besar dan kecil memungkinkan anak untuk memenuhi perkembangan perceptual motorik. 2.3 Pola Perkembangan Anak 1. Perkembangan Fisik Perkembangan fisik merupakan hal penting dalam rentang kehidupan anak. Anak memerlukan waktu yang cukup untuk aktivitas secara fisik. merupakan hal yang penting pada masa prasekolah dan sekolah dasar pada kelas awal di mana anak memiliki waktu yang cukup untuk beraktifitas secara fisik. Para guru dan orangtua dari anak-anak kecil harus berpikir secara hati-hati ketika sedang merencanakan kegiatan-kegiatan bagi anak-anak kecil. Sebagai contoh, menulis pada garis memerlukan kendali motorik halus yang benar-benar baik, dan kebanyakan dari anak-anak yang berusia lima dan enam tahun belum dapat melakukan kegiatan ini dengan baik, tanpa adanya kesukaran yang pantas untuk dipertimbangkan. Anak-anak yang ikut serta dalam beberapa kegiatan olahraga seperti sepak bola, ketika mereka masih muda mungkin saja akan mengalami kesulitan yang sama. Beberapa orangtua dan pelatih mengharapkan adanya suatu koordinasi bagi anak-anak yang berusia lima sampai dengan delapan tahun. Jika anak-anak mengambil bagian dalam suatu aktivitas yang terorganisir, maka orangtua dan pelatih perlu menyadari akan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan aktivitas tersebut dan untuk menyamakan harapan mereka sebagai orangtua dan kemampuan yang dimiliki oleh anak. 2. Perkembangan Sosial Para guru pada umumnya tidak merencanakan aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan perkembangan sosial; sebagai gantinya mereka memikirkan perkembangan sosial sebagai salah satu bentuk dari keikutsertaan anak, dalam suatu kegiatan kelas yang bervariasi. Para guru yang ingin membantu anak untuk berkembang secara sosial dengan baik akan menyadari kemampuan sosial anak-anak dan mengambil keuntungan dari kegiatan kelas yang rutin bagi perkembangan mereka yang lebih lanjut. Aktivitas seharusnya dapat mendorong anak-anak untuk dapat saling bekerja sama, mengembangkan konsep diri mereka, dan untuk memperoleh keterampilan dalam interaksi dengan anak-anak yang lain. 3. Perkembangan Emosional Pertumbuhan emosional dapat didukung melalui jenis kelas yang memiliki ciri khas belajar berdasarkan pengalaman, jika guru menyadari tahapan perkembangan yang sedang dilalui oleh anak dan juga hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk mendorong perkembangan. Bagi anak yang berada di bangku Taman Kanak-kanak dan kelas satu, sudah dapat menyatakan dan melabelkan suatu emosi yang luas. Mereka dapat menguraikan rasa sedih yang mereka alami, rasa marah, atau perasaan senang dan juga menguraikan suatu situasi yang merupakan emosi yang dihasilkan oleh anak-anak yang lain. Anak-anak ini mejadi lebih mampu dalam mengendalikan perasaan agresif mereka dan, dengan beberapa bimbingan, dapat belajar untuk mengeluarkan rasa frustasi mereka kepada anak-anak lain dengan menggunakan kata-kata dibanding dan bukan dengan memukul. Anak yang berusia lima dan enam juga sudah mulai untuk mengembangkan suara hati dan suatu perasaan tentang benar atau salah. 4. Perkembangan Intelektual Perkembangan kognitif mengacu pada perkembangan anak dalam berpikir dan kemampuan untuk memberikan alas an. Malkus, Feldman, dan Gardner dalam Catron dan Allen menggambarkan perkembangan kognitif sebagai “… kapasitas untuk bertumbuh untuk menyampaikan dan meghargai maksud dalam penggunaan beberapa system symbol yang secara kebetulan ditonjolkan dalam suatu bentuk pengaturan”. Sistem symbol ini meliputi kata-kata, gambaran, isyarat, dan angka-angka. Anak-anak yang berada pada tahapan sensorimotor memerlukan pengalaman yang berkaitan dengan sentuhan, rasa, dan juga penyelidikan. Dunia anak terorganisir lewat beberapa cara yaitu visual, taktil, dan kinestetik. Anak-anak kecil belajar pada suatu tingkat yang cepat dan juga disertai dengan tantangan dalam tujuannya untuk membangun kekuatan belajar mereka pada tahap praoperasional secara diam-diam, misalnya mengembangkan aspek bahasa mereka dengan cepat dan juga kemampuan mereka untuk mengelompokan dan mengurutka, serta untuk menghindari aktivitas yang megajak mereka untuk memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan untuk mengemukakan sebuah alas an secara abstrak. 3. KESIAPAN SEKOLAH 3.1 Definisi Kesiapan Sekolah Kesiapan merupakan fakta. Tidak diragukan lagi bahwa beberapa jenis pembelajaran akan lebih mudah dan lebih siap pada usia tertentu daripada usia lain, atau lama belajar sebelumnya turut menentukan berlangsungnya lama belajar baru. Kesiapan didefinisikan sebagai tersiapnya dan terbekali-siap melakukan, langsung bertindak, atau menggunakan sesuatu. Pengertian kesiapan bersekolah dinyatakan oleh Fitzgeald dan Strommen (1972) sebagai kemampuan anak mencapai tingkat perkembangan emosi, fisik, dan kognisi yang memadai sehingga anak mampu atau berhasil dengan baik secara akademik. Jadi, kesiapan bersekolah adalah kemampuan yang sudah dimiliki anak untuk dapat mengikuti pelajaran disekolah dasar dengan baik. 3.2 Teori Kesiapan Belajar Tiga teori sangat berbeda yang menjelaskan kesiapan telah memengaruhi pemikiran kita tentang kesiapan. Tiga teori besar yang biasanya menjelaskan kesiapan adalah teori maturationalist, behaviorist, dan constructivist. 1. Teori Maturasional G. Stanley Hall (1844-1929) dan Arnold Gessel (1880-1961) mengemukakan teori formal maturasional. Teori maturasional beranggapan bahwa pertumbuhan bergerak maju lewat serangkaian tahap yang tidak berubah, setiap tahap dicirikan oleh struktur organism yang berbeda secara kualitatif dan pola interaksi yang berbeda secara kuantitatif antara organism dan lingkungannya. Pertumbuhan dan pembelajaran, menurut teori kematangan, dikarenakan adanya mekanisme fisiologi internal dan pertumbuhan mereka yang teratur dan berurutan ketimbang faktor lingkungan. Teori maturasional bisa menghasilkan praktik kesiapan yang melakukan hal-hal berikut : • Memakai patok duga yang kaku mengenai pertumbuhan dan perkembangan normal untuk menentukan apakah anak-anak siap. • Mengacaukan antara apa yang dilakuka anak-abnak dan hasil akhir pendidikan. Patok duga perkembangan manusia dijadikan kurikulum. • Memeberi pesan pasif kepada para guru. • Mengabaikan peran lingkuangan dan pembinaan pada pertumbuhan, perkembangan, dan pembelajaran manusia. Sebaliknya, teori maturasional bisa sangat berguna untuk memahami kesiapan karena hal-hal berikut: • Menerima pandangan bahwa belajar merupakan kegiatan biologis yang normal. Anak-anak tidak perlu dipujuk, diajak, dipaksa, dimanipulasi, atau diakali supaya mereka belajar. • Anak-anak sesungguhnya bertumbuh lewat cara yang dapat diramalkan. Kendati demikian, ada variasi lluas dlam pertumbuhan dan perkembangan anak, hal-hal yang universal dari perkembangan manusia tidak bisa diingkari. • Pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan member pedoman mengenai praktik. Praktik kurikulum yang tidak berdasarkan pengetahuan tentang kematangan bisa gagal. 2. Teori Behaviorisme Berbagai teori behaviorisme tentang kesiapan dan pembelajaran bertentangan secara diametris dengan teori maturasional. Jika teori maturasional beranggapan bahwa kesiapan dan pembelajaran itu terbentuk lebih dahulu di dalam diri individu, maka teori behaviorisme menganut pendapat bahwa kesiapan dan pembelajaran itu diletakkan pada individu dari luar. Teori behaviorisme percaya bahwa semua pengetahuan berasal dari kesan indra, baik sebagai salinan langsung dari kesan indra (gagasan sederhana) atau sebagai kombinasi dari beberapa gagasan sederhana atau rumit. Manusia, seperti halnya semua mamalia, memiliki struktur netral bagi pembentukan asosiasi antara masukan (input) dan keluaran (output) indra. Ini berate bahwa semua manusia mempunyai kemampuan memperoleh hubungan stimulus-respons atau kebiasaan, dan perkembangan mental serta pembelajaran yang terlibat bergerak maju dalam bentuk teratur, hierakis, atau progesif. Teori behaviorisme menekankan peran aktif kekuatan eksternal dalam pertumbuhan, perkembangan dan pembelajaran anak. Setidaknya, teori ini bisa membawa praktik-praktik kesiapan mengenai hal-hal berikut : • Turunkan kesiapan menjadi serangkaian keterampilan terpisah yang diajarkan lewat latihan berulang dan praktk yang disertai penguatan kembali yang sesuai. • Latihan kesiapan sebagai proses yang berurutan, garis lurus, bertingkat-tingkat, akan mengabaikan konteks budaya di tempat anak-anak belajar. • Manipulasi atau kendalikan anak-anak lewat jadwal penguatan eksternal, dengan mengajarkan merteka agar menaruh kepercayaan kepada orang lain yang akan membuat keputusan bagi mereka. Pada puncaknya, teori behaviorisme tentang perkembangan bisa membawa praktik kesiapan mengalami hal-hal berikut: • Efektif. Karena teori-teori itu meminta para guru membuat spesifikasi apa yang harus dipelajari anak-anak dan bagaimana memperlajarinya, maka teori itu sering membawa keberhasilan belajar (Gersten & Georg, 1990). • Menyebabkan guru mampu mengungkapkan apa sasaran bagi anak-anak dan bagaimana mereka mencapai sasaran itu. • Mengetahui peran penting lingkungan dan penguat eksternal bagi pembelajaran dan kesiapan anak-anak. 3. Teori Konstruktivis Teori kognitif dari konstruktivis yang menyatakan perkembangan pikiran bukanlah hasil penguatan kematangan maupun penguatan eksternal dari lingkungan, melainkan berlangsung melalui rangkaian panjang pertukaran antara individu dan lingkungan, dianggap lebih berhasil dalam menjelaskan kesiapan belajar. Teori-teori konstruktivitas tentang pembelajaran dan kesiapan belajar menempatkan tanggung jawab baik pada lingkungan maupun pada kematangan dan interaksi antara keduanya. Setidaknya, teori ini bisa membawa praktik kesiapan belajar yang melakukan hal-hal berikut: • Menuntun orang sehingga memusatkan perhatian hanya pada pertumbuhan akal, dengan mengabaikan pertumbuhan fisik dan emosi. • Menjadikan kesiapan tidak pasti atau tidak terencana. • Beranggapan bahwa semua anak sama-sama tertarik dan termotivasi untuk membangun struktur bernalar baru. Keadaan terbaiknya, teori konstruktivitaas tentang perkembangan menyebabkan praktik-praktik kesiapan belajar melakukan hal-hal berikut: • Praktik kesiapan belajar berdasar pada pemahama tentang cara penyusunan pikiran anak-anak diwaktu tertentu. • Menuntun para guru mendasarkan kesiapan belajar bukan pada apa yang bisa dilakukan anak-anak melainkan pada apa yang dapat dilakukan anak lewat bimbingan (Craig, 2003). • Menghormati insan pembelajar. 4. PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH 4.1 Definisi Pendidikan Anak Prasekolah Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini yang tertulis pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi “Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar”. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya piker, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosioemosional (sikap, perilaku dan beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. 4.2 Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini Penyelenggaraan pendiidkan anak usia dini haruslah diselenggarakan pada berbagai landasan, yaitu landasan yuridis, landasan filosofis dan religius, serta landasan keilmuan. 1. Landasan Yuridis Pendidikan Anak Usia Dini merupakan bagian dari pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bermain dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pasal 28 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dinyatakan bahwa (1) Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal, (3) pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat, (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal: KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat, (5) Pendidikan usia dini jalur pendidikan informal: pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dan (6) ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. 2. Landasan Filosofis dan Religi Pendidikan dasar anak usia dini pada dasarnya harus berdasarkan pada nilai-nilai filosofis dan religi yang dipegang oleh lingkungan yang berada di sekitar anak dan agama yang dianutnya. Pendidikan agama menekankan pada pemahaman tentang agama serta bagaimana agama diamalkan dan diaplikasikan dalam tindakan serta perilaku dalam kehidupan seharu-hari. Penanaman nilai-nilai agama tersebut disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak serta keunikan yang dimiliki oleh setiap anak. Pendidikan anak usia dini juga harus disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut oleh lingkungan di sekitarnya yang meliputi factor budaya, keindahan, kesenian, dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang dapat dipertanggungjawabkan. 3. Landasan Keilmuan Pendidikan anak usia dini pada dasarnya harus meliputi aspek keilmuan yang menunjang kehidupan anak dan terkait dengan perkembangan anak. Konsep keilmuan pendidikan anak usia dini bersifat isomorfis artinya kerangka keilmuan pendidikan anak usia dini dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa disiplin ilmu, di antaranya psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, humaniora, kesehatan dan gizi serta neurosains. Berdasarkan aspek pedagogis, masa usia dini merupakan masa peletak dasar atau pondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Artinya masa kanak-kanak yang bahagia merupakan dasar bagi keberhasilan di masa datang dan sebaliknya. Untuk itu, agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal, maka dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif pada saat memberikan stimulus dan upaya-upaya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan lainnya. 4.3 Kurikulum Anak Usia Dini Berkaitan dengan istilah kurikulum bagi anak usia dini terdapat beberapa peristilahan sejenis yang mengandung makna yang cenderung hampir sama. Peristilahan yang dimaksud diantaranya adalah program kegiatan belajar bagi anak TK, menu pembelajaran anak usia dini, menu generic anak usia dini, dan stimulus perkembangan bagi anak usia dini. Kesemua peristilahan tersebut pada dasarnya mengandung makna yang sama, yaitu berisi seperagkat kegiatan belajar melalui bermain yang dapat memberikan pengalaman langsung bagi anak dalam rangka mengembangkan seluruh potensi perkembangan yang dimiliki oleh setiap anak. Berhubungan dengan hal tersebut di atas, peristilahan pengembangan kurikulum adalah istilah yang paling sesuai dengan pengembangan program kegiatan bermain bagi anak usia dini. Dikarenakan istilah kurikulum terkesan sangat formal dan terstruktur, maka istilah kurikulum seringkali ditukarpakaikan dengan istilah program kegiatan bermain. Albrecht dan Miller berpendapat bahwa dalam pengembangan program kegiatan bermain (kurikulum) bagi anak usia dini seharusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan adanya kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi dan berkreativitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator pada saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Bennett, Finn dan Cribb menjelaskan bahwa pada hakikatnya pengembangan kurikulum adalah pengembangan sejumlah pengalaman belajar melalui kegiatan bermain yang dapat memperkaya pengalaman anak tentang berbagai hal, seperti cara berpikir tentang diri sendiri, tanggap pada pertanyaan, dapat memberikan argumentasi untuk mencari berbagai alternative. 5. Taman kanak-kanak yang berpusat pada anak pendidikan melibatkan seluruh anak dan mencakup kepedulian akan perkembangan fisik, kognitif dan sosial anak. Pembelajaran diorganisasikan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan, minat-minat dan gaya belajar anak. Penekanan adalah pada proses belajar dan bukan pada apa yang dipelajari. Setiap anak mengikuti suatu pola perkembangan yang unik, dan anak-anak kecil paling baik belajar melalui pengalaman pertama menggunakan tangan atau langsung dengan manusia dan benda-benda.Bermain sangat penting dalam keseluruhan perkembangananak. Mencoba, menjelajahi, menemukan, menguji-coba, merestrukturasi berbicara dan mendengar ialah kata-kata yang menggambarkan program-program taman kanak-kanak yang bagus. Program-program seperti itu terkait dengan status perkembangan anak usia 4 dan 5 tahun. Program didasarkan atas suatu keadaan yang tengah berlangsung, bukanatassuatukeadaan yang akan terjadi. 6. Pendekatan Montessori Pendekatan Montessori adalah suatu pendekatan mengenai pendidikan dimana anak-anak diberi kebebasan dan spontanitas untuk memilih kegiatan mereka dalam belajar. Mereka diperbolehkan untuk berpindah dari suatu metode belajar ke satu metode belajar lainnya yang mereka inginkan. Peran guru bertindak lebih sebagai fasilitator daripada seseorang yang memonitori keadaan kelas. Guru menunjukan anak-anak bagaimana caranya melakukan kegiatan intelektual, dan juga memperlihatkan cara yang menarik untuk mengembangkan materi-materi kurikulum dan menawarkan bantuan apabila si anak memintanya. metode Montessori bertujuan sebagai pengantar prinsip, agar anak-anak mereka dapat memasuki kesenjangan pendidikan yang lebihtinggi dengan persiapan yang matang. Pendidikan ini dimulai dari masa prasekolah, menurut Montessori, anak harus belajar atas kemauannya sendiri, tidak dengan dipaksa. Salah satu cara yang mudah untuk membuat anak menyukai belajar adalah dengan cara membuat anak belajar sambil bermain karena anak-anak sangatmenyukai permainan. Oleh karena itu, sebagai orang tua dan pendidik harus kreatif dalam memasukkan pelajaran dalam permainan anak-anak. Keuntungan anak pra sekolah sebelum memasuki masa sekolah formal : Lebih berkompeten dan dewasa secara social dalam arti mereka lebih percaya diri, mandiri, mengekspresi kan diri secara verbal, mengetahui dunia sosial, bias menyesuaikan diri dengan dunia social dengan lebih baik ketika mereka masuk sekolah (memperlihatkan ketekunan dalam menyelesaikan tugas, kepemimpinan, dan arah tujuan)

Kepribadian menurut Allport

1.1 RIWAYAT KEHIDUPAN ALLPORT Gordon Willard Allport lahir pada 11 November 1897 lahir di Montezuna, Indiana, dari pasangan John E. Allport dan Nellie Wise Allport sebagai anak bungsu dari 4 bersaudara. Awalnya ayahnya adalah seorang pengusaha , namun ketika Allport lahir beliau beralih pekerjaan dibidang obat – obatan (medis). Ibunya seorang guru dan merupakan protestan yang alim. Ketika Allport berumur 6 tahun, keluarganya telah berpindah sebanyak tiga kali-dan akhirnya menetap di Cleveland, Ohio. Allport kecil mengembangkan ketertarikannya pada Philosophi dan pertanyaan keagamaan yang banyak memberikan kesempatan untuk berkata-kata. Dia menggambarkan dirinya sebagai sosial “terpisah” yang menggunakan lingkaran aktivitasnya sendiri. Dia juga menyatakan bahwa dia adalah anak yang lebih memiliki kemampuan dalam merangkai kata daripada olahraga ataupun bermain dengan rekan sebaya. Pada tahun 1915 ia masuk ke Universitas Harvard, dan menjadi sarjana pada tahun 1919. Pada tahun 1922 Allport menerima gelar Ph.D ilmu psikologi di Harvard, setelah 2 tahun menjalani pendidikan. Dan pada akhirnya Dr Allport merubah rumahnya menjadi bentuk kecil dari rumah sakit. Ditemukan suster-suster dan para pasien di rumah, bersih dan keadaan yang steril diberlakukan. Bagi Allport, Psikologi harus lebih menaruh perhatian kepada kesadaran atau motivasi yang terlihat. Allport mendapatkan penghargaan dalam bidang psikologi, yaitu : “American Psychological Foundation’s Gold Medali,” “The American Psychological Association’s Distinguished Scientific Contribution Award”, dan “The Presidencis of the American Psychological Assosiation and The Society for the Psychological of Sosial Issues”. 1.2 DEFINISI KEPRIBADIAN Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Tetapi pada tahun 1961 Allport mengubah kata terakhir dalam definisinya mengenai kepribadian yaitu lingkungan dirubah menjadi karakter tingkah laku dan pemikiran. Definisi ini kiranya perlu dijelaskan maksudnya : • Pernyataan “organisasi dinamis” menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah walaupun terdapat sistem organisasi yang menghubungkan berbagai komponen daripada kepribadian. • Istilah “psikofisis” menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah semata-mata mental dan bukan pula semata-mata neural atau saraf. Organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa (terpisah-pisah) dalam kesatuan kepribadian. • Istilah “menentukan” menunjukkan bahwa kepribadian mengandung tendensi-tendensi determinasi yang meminkan peran aktif dalam tingkah laku individu. Kepribadian terletak di belakang perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam individu itu sendiri. • Satu unsur lagi yang penting dalam definisi diatas ialah, kata unik yang menunjuk tekanan utama yang diberikan oleh Allport pada individualitas. Tidak ada dua orang yang benar-benar sama dalam caranya menyesuaikan diri terhadap lingkungan, jadi dengan demikian berarti tidak ada dua orang yang mempunyai kepribadian yang sama. • Dengan menyatakan “menyesuaikan diri terhadap lingkungan” Allport menunjukkan keyakinannya, bahwa kepribadian mengantarai individu dengan lingkungan fisis dan lingkungan psikologisnya, kadang-kadang menguasainya. Jadi, kepribadian adalah sesuatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan. 1.3. HAKIKAT KEPRIBADIAN Seperti yang kita ketahui, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Di dalam defenisi ini terdapat makna bahwa manusia itu adalah makhluk yang unik pada setiap individunya. 1.3.1. Keturunan dan Lingkungan Untuk membantu menekankan keunikan (kekhasan) pada kepribadian seorang individu, Allport menyatakan bahwa kita harus merefleksikan kedua faktor ini yaitu, keturunan dan lingkungan. Keturunan menyediakan materi luar (seperti, bentuk badan, intelligensi dan temperamen) yang mungkin dibentuk, dikembangkan atau dibatasi oleh lingkungan 1.3.2. Two Distinct Personalities Allport telah mempertimbangkan kepribadian menjadi memiliki ciri-ciri tersendiri dan tidak berlanjut. Tidak hanya bagi dua individu yang jelas memiliki perbedaan dalam kepribadian mereka, tetapi juga diantara kedewasaan juga berpisah dengan masa lalunya. Kita sudah melihat bagaimana pandangan allport mengenai Hakikat Kepribadian individu. Dia menekankan pada kesadaran daripada ketidaksadaran, masa sekarang dan masa depan daripada masa lalu. Serta dia mengakui keunikan dalam kepribadian daripada mengusulkan kelompok kecil ataupun besar dalam masyarakat. Dan dia memilih normal daripada abnormal. 1.4. STRUKTUR DAN DINAMIKA KEPRIBADIAN Struktur kepribadian utama dinyatakan dalam sifat-sifat (traits) . Allport berpendapat bahwa pengertian-pengertian kebiasaan, traits, sikap, diri (self) dan kepribadian itu masing-masing bermanfaat dan berbeda - beda. Namun Allport menekankan hal utama pada sifat (trait), sedang disamping itu sikap (attitude) dan intensi (intentions) yang kedudukannya hampir sama, sehingga psikologi Allport dinamakan “traittpsychology”. Karakter : kepribadian yang sudah dievaluasi. Bagi Allport temperamen adalah bagian khusus dari kepribadian yang diberikan definisi demikian :“temperamen adalah konstitusi kejiwaan atau bagian dari jiwa yang melaljui darah dan memiliki hubungan dengan jasmaniah / biologis dan bersifat hereditas, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatan bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara daripada fluktuasi dan intensitat suasana hati; gejala ini tergantung kepada faktor konstitusional,(Allport, 1951, p.54) • Personality Traits Traits adalah semacam neuropsikis yang memiliki kapasitas memberi dan mampu mengarahkan fungsi stimulus yang sama dan membentuk perilaku yang adaptif dan ekspresif. Karakteristik traits menurut Allport adalah : • Nyata dan ada pada setiap inidividu. Tidak hanya merupakan teori atau pe-label-an tingkah laku. • Membuat/menyebabkan suatu perilaku • Bersifat empiris • Saling berhubungan • Berubah sesuai/tergantung situasi. Allport mengkategorikan traits dalam 2 jenis : • Individual Traits : keunikan dan ketetapan karakter seseorang. • Common Traits : pembagian jumlah orang berdasarkan kebudayaan. Berdasarkan kepentingannya, traits dapat dirangking : • Cardinal traits adalah sifat yang mendominasi kehidupan manusia. • Central traits adalah sifat yang lebih umum dan khas yang mempengaruhi dan mengorganisasikan sebagian perilaku, cenderung karakteristik individu yang sangat khas sering berfungsi dan mudah ditandai. • Secondary traits adalah sifat yang lebih spesifik dan tidak terlalu penting untuk mendeskripsikan kepribadian. Sifat ini berfungsi lebih terbatas, khusus pada respons yang didasarnya serta perangsang tertentu. Habit ( kebiasaan) adalah kecenderungan yang bersifat menentukan. Habit mempengaruhi cara berperilaku dan pengaruhnya terbatas pada trait karena habit sifatnya relatif tidak fleksibel. Gabungan beberapa habit dapat membentuk suatu trait/sifat. Attitudes ( sikap ) adalah makna yang hampir sama dengan traits, kecuali bahwa attitudes mempunyai objek yang spesifik, dan melibatkan pertimbangan dan evaluasi (positif/negatif). Perbedaan antara sifat (trait) dan sikap (Attitude) sukar diberikan. Bagi Allport kedua-duanya itu adalah predisposisi untuk berespon, kedua-duanya adalah khas, kedua-duanya dapat memulai atau membimbing tingkah laku ; kedua-duanya adalah hasil dari faktor genetis-genetis dan belajar. Namun kalau diteliti terdapat perbedaan antara kedua hal tersebut, yaitu : • Sikap (attitude) itu berhubungan dengan sesuatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak. Jadi, sifat umum daripada sifat ialah bahwa sifat itu hampir selalu lebih besar / luas daripada sikap : dalam kenyataannya makin besar jumlah obyek yang dikenai sikap itu, maka sifat makin mirip dengan sifat. Sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, tetapi kalau sifat selalu umum. • Sikap biasanya memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi, sedangkan sifat tidak. • Intensi (Intentions) Lebih penting dari penyelidikan mengenai masa lampau ialah penyelidikan mengenai intensi atau keinginan individu mengenai masa depannya. Istilah intensi digunakan dalam arti yang meliputi pengertian: harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, cita-cita seseorang. Menurut Allport intensi ini dapat disejajarkan dengan apa yang disebut Freud Ich ideal dan apa yang disebut C. Buhler Bestimmung. Dalam hal inilah terlihat jelas perbedaan Allport dengan lain-lain ahli teori kepribadian dewasa ini. Teori Allport menunjukkan, bahwa apa yang akan dicoba dilakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal terpenting bagi apa yang dikerjakannya sekarang. Jadi kalau dewasa ini, banyak ahli yang mengutamakan masa lampau, maka pendapat Allport itu mirip sekali dengan pendapat Adler dan Jung; walaupun tidak ada alasan untuk mengatakan adanya pengaruh dari mereka ini. • Type Allport membedakan antara sifat dan type. Menurut dia orang dapat memiliki suatu sifat, tetapi tidak dapat memiliki sesuatu type. Type adalah konstruksi ideal si pengamat, dan seseorang dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan konsekuensi diabaikan sifat-sifat khas individuilnya. Sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan type malah menyembunyikannya. Jadi bagi Allport, type menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan yang tak begitu cocok dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya daripada yang sebenar-benar ada. • Proprium Allport mengemukakan bahwa semua fungsi self atau ego disebut fungsi proprium (propriate function) daripada kepribadian. Fungsi tersebut adalah kesadaran jasmani, self identity, self-esteem, self extention, rational thinking, self image, propriate stiving, dan fungsi mengenal. Semua itu bagian-bagian yang vital daripada kepribadian. Proprium tidak dibawa sejak lahir tetapi berkembang didalam perkembangan individu. Allport menggunakan kata proprium daripada self karena lebih mudah dipahami sebagai sifat atau fungsi kepribadian secara umum. Tujuh aspek dalam perkembangan proporium adalah : • Bodily-self : Pada 3 tahun pertama, bayi menjadi lebih peduli terhadap keberadaan dirinya dan membedakan tubuhnya dari objek-objek yang ada disekitarnya. • Self Identity: Anak-anak membuktikan identitas mereka • Self-esteem: Anak-anak belajar untuk bangga terhadap prestasi mereka. • Extension of self: Pada masa ini anak mengakui objek-objek yang ada di sekitarnya dan orang-orang yang merupakan bagian dari dunia mereka. • Self-image : Anak-anak mengembangkan gambaran aktual dan idealis dalam diri mereka dan menjadi lebih peduli terhadap kepuasan terhadap harapan Orangtua. • Self as a rational coper: Umur 6-12 tahun, anak-anak mulai mengapli-kasikan alasan dan pengetahuan untuk mencapai solusi terhadap masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari • Propriate striving: Anak-anak muda mulai membentuk tujuan jangka panjang dan rencana 1.5. PROSES KEPRIBADIAN 1.5.1 Personality and Motivation • Menurut Allport, apa yang terjadi pada masa lalu tidak ada hubungannya dengan masa yang sekarang, hal itu hanya berperan sebagai motivasi pada masa sekarang. • Allport mengakui adanya pengaruh dari proses kognitif : rencana dan tujuan (cita-cita) yang kita sadari menjadi kunci pemahaman pada usia sekarang. 2.5.2 Fungsi Otonomi terhadap Motif Fungsi otonomi maksudnya adalah motivasi individu yang bersifat independen (tidak terikat dengan masa lalu). Ada 2 level fungsi otonomi, yaitu : • Perseverative functional autonomy (perilaku bukan karena alasan awal, tapi perilaku tersebut sudah mejadi kegiatan rutin/habit), contohnya : perokok. • Propriate functional autonomy (perilaku dihubungan pada nilai-nilai, self-image, dan gaya hidup). 3 prinsip propriate functional autonomy : organizing the energy level, astery and competence, propriate paterning. • Allport menuliskan bahwa tidak semua perilaku dan motif dapat diperjelas oleh prinsip-prinsip functional autonomy, seperti : gerak refleks, fiksasi, dan perilaku berasal dari biologis. 1.6. PERKEMBANGAN • Perkembangan Kepribadian Childhood : The Unique Self Allport membagi sifat dan pengembangan proprium di atas tujuh tahap dari masa kanak-kanak sampai remaja. • Bayi Bayi dikendalikan oleh eksternal (faktor luar) dan refleks dan hanya memiliki sedikit kepribadian, belum memiliki egosentris (karena egosentris perlu kesadaran diri). Pada waktu lahir ini anak telah mempunyai potensi-potensi baik fisik maupun temperamen, yang aktualisasinya tergantung kepada perkembangan kematangan. Allport berpendapat bahwa ada semacam aktivitas umum yang menjadi sumber dari tingkah yang bermotif. Proprium (self or ego) berkembang dari masa bayi hingga remaja dalam tujuh tahapan : • Bodily self (3 tahun pertama) menyadari diri sendiri dan membedakan tubuh mereka sendiri dari objek luar. • Self-identity Pada tahap ini anak-anak menyadari bahwa identitas mereka tetap utuh meski banyak hal yang berubah. Anak-anak belajar bangga dengan prestasinya. • Self-esteem Pada tahap ini anak belajar untuk menghargai prestasinya. • Extension of self Tahap 4 dan 5 muncul ketika usia 4 hingga 6 tahun. Dalam tahap ini, anak-anak mulai sadar akan kewajibannya dan mulai kearah untuk memuaskan harapan orang tua. • Self-image • Self as a rational coper Tahap ini dimulai dari usia 6 hingga 12 tahun, dimana anak-anak mulai menerapkan akal dan logika dalam problem solving sehari-hari. • Propriate striving Perkembangan yang terjadi selama masa remaja, sudah mulai untuk membuat tujuan-tujuan rencana masa depan. • Masa Kanak-kanak • Pada masa ini anak sudah memiliki potensi diri, dan mulai mengidentifikasi diri, mulai melihat dirinya berbeda dengan orang lain. • Tahap yang penting bagi Allport, dan peran orang tua dalam menghargai anak dan keinginan anak sangat penting _(usia 4-6 tahun). • Secara sadar, anak-anak mulai mengembangkan aktualitas, ideal diri, dan perilaku mereka untuk memuasakan harapan orang tua. • Masa Dewasa Kepribadian pada masa dewasa tumbuh dari masa kanak-kanak bukanlah lagi didominasi oleh masa kanak-kanak. Allport tidak menjelaskan bagaimana saraf pada masa kedewasaan dapat meniadakan pengalaman masa kanak-kanak. Ketika proprium baik (memuaskan), sifat dewasa juga akan baik. Dalam pandangan Allport, kesehatan kepribadian berubah dari dominasi organ secara bologis saat masa bayi menjadi kematangan organ secara psikologi pada masa dewasa. Pada tahap ini individu sudah membuat gaya hidup secara sadar. Rencana dan tujuan masa depan sudah terpikirkan. Menurut Allport, hal yang diperlukan dalam merealisasikan pribadi yang dewasa adalah sebagai berikut: • Extension of self Yaitu bahwa hidupnya tidak harus terikat secara sempit kepada kegiatan-kegiatan yang erat hubungannya dengan kebutuhan-kebutuhan serta kewajiban-kewajiban yang langsung. Dia harus dapat mengambil bagian dan menikmati bermacam-macam kegiatan. Suatu hal yang penting daripada extension of the self itu ialah proyeksi ke masa depan: merencanakan, mengharapkan (planning, hoping). • Self-objectification Ada dua komponen pokok dalam hal ini, ialah insight dan humor, yaitu : • Insight Apa yang dimaksud dengan insight disini ialah kecakapan individu untuk mengerti dirinya. • Humor Yang dimaksud dengan humor disini adalah kecakapan untuk mempertahankan hubungan positif dengan dirinya sendiri dan objek-objek yang disenangi, serta menyadari adanya ketidakselarasan dalam hal ini. • Filsafat Hidup Walaupun individu itu harus bersifat objektif dan bahkan menikmati kejadian-kejadian dalam hidupnya, namun haruslah ada latar belakang yang mendasari segala sesuatu yang dikerjakannya, yang memberinya arti dan tujuan. Religi merupakan salah satu hal yang penting dalam hal ini. • Adanya hubungan yang hangat kepada orang lain, menunjukkan keintiman, kasih sayang dan toleransi. • Kedewasaan menunjukkan penerimaan diri (mencapai ketenangan emosional) • Memegang prinsip yang realistis, mengembangkan keterampilannya, dan membuat komitmen dalam setiap pekerjaannya. • Memiliki pemahaman atau wawasan ke dalam diri. • ASSESMENT IN ALLPORT’s THEORY Allport menggunakan personal-document technique untuk mempelajari kepribadian. Personal-document technique adalah metode pengujian kepribadian yaitu dengan mempelajari hasil tulisan dan pembicaraan mereka. Kasus Allport paling terkenal adalah koleksi lebih dari 300 surat yang ditulis dalam kurun waktu 12 tahun oleh seorang wanita setengah baya diidentifikasi sebagai Jenny (Allport, 1965). Ia menggunakan dokumen pribadi dengan melibatkan buku harian, autobiografi, surat-surat, komposisi sastra, dan contoh lain berupa catatan tertulis atau lisan atau menentukan jumlah dan jenis kepribadian. The Study of Values Penggunaan study of values dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam setiap individu yang akan mempengaruhi motivasi. Terdapat enam tipe nilai : • Theoretical value : memfokuskan pada penemuan kebenaran dan memiliki karakteristik empiris, intelektual, dan rasional. • Economic values : memfokuskan pada manfaat dan praktisnya • Aesthetic values : berhubungan dengan pengalaman yang artistik dan untuk membentuk keselarasan serta kesenangan • Social Values : merefleksikan hubungan dalam bermasyarakat, mementingkan kepentingan orang banyak dan kecintaan terhadap sesama manusia. • Political values : kerjasama membentuk kekuatan, mempengaruhi dan wibawa dalam setiap usaha yang dilakukan, tidak hanya dalam aktivitas politik. • Religious values : memfokuskan pada hal-hal yang tak kelihatan mata (gaib) serta dengan pengertian keseluruhan sebagai bentuk kesatuan.

Kepribadian menurut Cattell

1.1 Biografi Raymond B. Cattell Raymond B. Cattell lahir di Staffordshire, Inggris, pada tahun 1905 dan dibesarkan di sebuah kota di tepi pantai bernama Devonshire. Cattell adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di luar rumah, berlayar, berenang, menelusuri gua, dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjukkan kecintaannya akan laut. Ketika Cattell berusia 9 tahun, di Inggris sedang terjadi Perang Dunia I. Rumah besar di dekat rumahnya diubah menjadi rumah sakit, dan Cattell melihat banyak kereta muatan berisi tentara-tentara yang terluka kembali dari medan perang. Pengalaman itu membuatnya menjadi lebih sadar betapa singkatnya hidup seseorang dan kebutuhan untuk melengkapinya selama masih bisa. Cattell juga merasakan sensasi berkompetisi dengan abangnya yang secara intelektual memiliki kekurangan namun memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tak bisa diatasinya. Pada usia 16 tahun, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Univesity of London, jurusan fisika dan kimia. Ia lulus tiga tahun kemudian dengan menyandang gelar B.Sc. Namun ia menyadari, kemampuannya di bidang sains ternyata tidak membantunya dalam bersosialisasi hingga ia memutuskan untuk mempelajari human mind, melalui ilmu psikologi. Lulus dengan gelar Ph.D pada 1929, ia bekerja sama dengan Charles Spearman dan mengembangkan teknik analisis faktor. Ia juga menjadi dosen di Exeter University dan membangun sebuah klinik psikologi di Leicester pada 1932. Sayangnya, kehidupan pernikahannya tak semulus kehidupan akademisnya. Istrinya meninggalkannya karena kemiskinan dan totalitasnya terhadap pekerjaan. Pada 1937, Edward L. Thorndike mengundang Cattell untuk membantu penelitiannya di Columbia University di New York. Tahun berikutnya, Cattell menjadi professor psikologi di Clark University di Worcester, Massachussets dan pada 1941 ia pindah ke Harvard University. Pada 1945, ia menikah lagi dengan seorang ahli matematika, mereka pindah ke University of Illinois karena Cattell diterima menjadi seorang professor peneliti disana. Ia pensiun pada 1973 lalu membangun Institute for Research on Morality and Adjustment in Boulder di Colorado. Pada 1978, ia pindah ke Hawaii dan mengajar di University of Hawaii School of Professional Psychology. Di waktu luangnya, ia terus menulis hingga kematiannya. Lebih dari 50 buku dan 500 artikel menjadi kontribusi yang sangat besar di dunia psikologi. Ia wafat pada 2 februari 1998 di rumahnya, di Honolulu, Hawaii. 1.2 Cattell’s Factor Analysis Tujuan Cattell dalam mempelajari kepribadian adalah memperkirakan perilaku. Subjek penelitian Cattell adalah orang-orang normal yang kepribadiannya ia pelajari, bukan obati atau rawat. Cattel percaya bahwa adalah hal yang tidak mungkin, atau setidaknya tidak bijak, untuk mengubah kepribadian sebelum memahami lebih rinci apa yang harus diubah. Cattell mengajukan sebuah prosedur statistik, yakni Teori Analisis Faktor, yaitu sebuah teknik statistik yang berdasar pada korelasi antara variabel pengukuran untuk mengukur faktor umum. Jika korelasi di antara kedua variabel tinggi, maka ada aspek-aspek yang mungkin sama dalam menyebabkan suatu tingkah laku atau kepribadian. Misalnya, kita berasumsi bahwa ‘rasa bersalah’ dengan ‘introvert’ menjadi subjek pengukuran dalam analisis faktor dan menunjukkan korelasi yang tinggi di antara keduanya. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa antara rasa bersalah dengan perilaku introvert memiliki faktor umum yang menyebabkan seorang individu memiliki kepribadian tersebut. Cattell menyebut faktor umum ini sebagai trait, yaitu elemen kepribadian. Hanya ketika kita mengetahui karakteristik trait seseorang lah kita bisa memperkirakan bagaimana seseorang akan berperilaku dalam suatu situasi. 1.3 DEFINISI KEPRIBADIAN Karena Cattell percaya bahwa kita tidak dapat menentukan suatu kepribadian hingga kita mampu menentukan seluruh konsep yang akan digunakan dalam suatu perilaku (trait). Untuk itu, Cattell mengemukakan pendapatnya mengenai kepribadian, yaitu : Personality is that which permits a prediction of what a person will do in a given situation Raymond Bernard Cattell Maksudnya adalah, kepribadian seseorang mampu memprediksi perilaku yang akan dilakukannya dalam situasi tertentu. Kepribadian yang dimaksud Cattell fokus dengan seluruh bentuk perilaku, baik luar dan dalam. STRUKTUR KEPRIBADIAN Cattell berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu bentuk struktur kompleks dari trait dari berbagai macam kategori. Trait adalah sebuah kecenderungan reaksi yang relative permanent yang merupakan bagian dari kepribadian. Melalui analisis factor, Cattell mengklasifikasikan beberapa trait dalam beberapa bagian. 3.1 Common Traits and Unique Traits Common trait adalah suatu sifat atau karakter yang dimiliki oleh setiap orang dan dibedakan dalam bentuk tingkatan. Intelligence, keterbukaan, supel, merupakan contoh dari common trait. Setiap orang memiliki trait ini, tetapi beberapa orang memilikinya dengan tingkatan yang lebih baik dari yang lain. Sedangkan, unique trait merupakan suatu sifat atau karakter yang tidak dimiliki orang lain (dimiliki oleh sedikit individu) dimana sifat tersebut menyebabkan suatu individu menjadi unik. Unique traits lebih kepada ketertarikan individu terhadap sesuatu. Contohnya ada individu yang menyukai laba-laba, sedangkan individu yang lainnya malah tidak menyukai laba-laba dan menyukai serangga lainnya. 3.2 Surface Traits and Source Traits Surface traits merupakan karakter kepribadian yang terdiri dari banyak elemen-elemen yang menyusunnya secara konstan. Misalnya, kita dapat menyimpulkan trait cheerfulness yang dimiliki seorang wanita ketika kita secara berulang-ulang mengobservasi wanita yang senang memberi semangat kepada orang lain, membuat nyaman orang lain, dll. Sedangkan source traits merupakan salah satu unit atau struktur dari trait yang memengaruhi setiap perilaku individu. Source traits merupakan trait yang penting karena source traits merupakan unit dari karakter-karakter yang membangun surface traits. Berdasarkan asalnya, source trait dapat diklasifikasikan lagi menjadi : • Constitutional traits ; karakter yang ada disebabkan oleh kondisi biologis. Misalnya seorang yang mabuk dapat berperilaku ceroboh, berbicara ngawur, dll • Environment-mold traits ; karakter yang didapatkan karena faktor lingkungan melalui proses pembelajaran. Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai militer menunjukkan perilaku yang berbeda dengan seseorang yang bekerja sebagai musisi jazz 3.3 Ability Traits, Temperament Traits, and Dynamic Traits Ability traits yaitu sifat yang menentukan seberapa mampu seseorang dapat bekerja demi sebuah tujuan. Intelligence juga merupakan salah satu contoh dari ability traits ini, contohnya dengan tingkat intelijensi seseorang kita dapat memperkirakan seberapa keras seseorang itu mampu mencapai tujuannya (misalnya nilai). Selain itu, yang disebut dengan temperament traits yaitu sifat yang dapat menggambarkan emosi dari seseorang secara umum. Sifat ini meliputi cara individu bertingkah laku dan merespon suatu situasi. Misalnya, ketenangan, kegugupan, santai, keberanian, dll. Sedangkan dynamic traits merupakan sifat atau karakter yang mengendalikan tingkah laku seseorang dan juga berperan dalam emosi, keinginan, maupun ketertarikan seseorang dalam suatu hal. DINAMIKA KEPRIBADIAN 4.1 Erg Adalah dorongan atau motivasi dasar bawaan yang dimiliki seseorang untuk mencapai tujuannya. Erg berupa dorongan primer yang dimiliki sejak lahir, seperti lapar, haus, dll. Erg sering disebut sebagai konsep diri. Misalnya, erg of fear akan membuat seseorang mengembangkan kewaspadaannya terhadap sesuatu yang membahayakannya. Manusia memiliki 10 erg, yaitu makan, seks, sociability, parental protectiveness, keingintahuan, rasa takut, agresif, serakah, self-assertion, dan kegemaran. 4.2 Sentiment Adalah pola terstruktur dari sikap yang memperoleh energi dari erg dan dibentuk melalui hasil belajar. Termasuk environmental-mold source traits karena pengaruh lingkungan berkontribusi besar dalam pembentukan kepribadian. Sentimen merupakan sumber motivasi yang penting karena kecenderungannya mengorganisir diri di sekitar institusi sosial yang menonjol (seperti karir, agama) atau di sekitar orang yang penting (orang tua, pasangan) 4.3 Attitude (Sikap) Adalah konsep tentang tingkah laku spesifik sebagai respon terhadap suatu situasi tertentu. Sikap tidak perlu diungkapkan secara verbal. Cattel mengukur sikap dengan metode yang bervariasi. Misalnya, laki-laki yang menyukai seorang wanita mungkin akan meningkat tekanan darahnya atau detak jantungnya jika melihat wanita yang disukainya. Sikap kemudian berperan sebagai motivator tingkah laku yang termasuk environmental-mold source traits.

Kepribadian menurut Eysenck

I. Biografi dan Sejarah Hans Eysenck Hans Eysenck lahir di Jerman pada tanggal 4 Maret 1916. Ayahnya adalah seorang aktor dan bercerai dengan ibunya saat dia baru berusia 2 tahun. Eysenck kemudian dirawat oleh neneknya. Dia hidup bersama neneknya sampai usia 18 tahun, ketika nazi mulai berkuasa. Sebagai seorang simpatisan Yahudi, terang saja kehidupannya terancam. Dia kemudian pindah ke Inggris guna melanjutkan pendidikanya. Dia menerima gelar doktor di bidang psikologi dari University of London tahun 1940. Selama Perang Dunia II, dia bekerja sebagai psikolog di bagian gawat darurat perang. Keyakinan Eysenck terhadap kebutuhan pengukuran yang akurat menjadikannya melancarkan kritik keras terhadap teori psikoanalisis. Psikoanalisis tidak memberikan pengukuran yang akurat dan reliabel bagi konsep psikologis mereka. Hal ini diyakini Eysenck sebagai kegagalan serius. Dalam menyusun teori sifat, Eysenck mencoba menghindari masalah ini dengan menggunakan pengukuran perbedaan individu yang reliabel. Dia menekankan pada keharusan pengukuran sifat kepribadian yang memadai. Pengukuran itu merupakan keharusan untuk mendapatkan sebuah teori yang dapat diuji dan jika gagal, tidak disetujui. Pengukuran seperti ini juga diperlukan untuk mengidentifikasikan asumsi dasar-dasar biologis dari sifat. Teori kepribadian Eysenck memiliki komponen biologis dan psikometris yang kuat. Namun ia yakin kalau kecanggihan psikometris saja tidak cukup untuk mengukur struktur kepribadian manusia dan bahwa dimensi kepribadian yang melewati analisis factor bersifat steril dan tak bermakna kecuali mereka memiliki eksistensi biologis. Inti pandangan Eysenck dalam psikologi dapat dicari sumbernya pada keyakinannya bahwa pengukuran adalah fundamental dalam segala kemajuan ilmiah, dan bahwa lapangan psikologi sebelumnya orang belum pasti tentang “hal” apa yang sebenarnya diukur. Eysenck yakin bahwa taksonomi atau klasifikasi tingkah laku adalah langkah pertama yang menentukan dan bahwa analisis factor adalah alat yang paling memadai untuk mengejar tujuan ini. II. Definisi Kepribadian Menurut Eysenck kepribadian adalah keseluruhan pola tingkahlaku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkahlaku; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament), sektor somatik (constitution). III. Struktur Kepribadian Eysenck berpendapat bahwa kebanyakan ahli-ahli teori kepribadian terlalu banyak mengemukakan variabel-variabel kompleks dan tidak jelas. Pendapat ini dikombinasikan dengan anlisisnya, yaitu dengan analisis faktor yang telah menghasilkan sistem kepribadian yang ditandai oleh adanya sejumlah kecil dimensi-dimensi pokok yang didefinisikan dengan teliti dan jelas. Kepribadian sebagai organisasi tingkah laku dipandang Eysenck memiliki empat tingkatan hirarki, berturut-turut dari hirarki yang tinggi ke hirarki yang rendah : 1. Hirarki tertinggi : Tipe/Supertraits, kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas. 2. Hirarki kedua : Trait, kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen. 3. Hirarki ketiga : Kebiasaan tingkah laku atau berpikir, kumpulan respon spesifik, tingkahlaku/pikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip. 4. Hirarki terendah : Respon spesifik, tingkahlaku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian. Jika dilihat dari hubungnnya dengan hirarki di atas, maka dapat disebutkan bahwa antar bagian dari hirarki kepribadian tersebut terjadi interaksi dan saling berpengaruh antar satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh adalah adanya interaksi antara bagian kepribadian yang disebut sebagai specific response dan habitual response. Dimana yang disebut sebagai specific response yakni perilaku atau pikiran individual yang bisa mencirikan sebuah pribadi atau tidak, misal seorang siswa yang menyelesaikan tugas membaca. Sedangkan habitual response dapat dimaknai sebagai respon yang terus berlangsung di bawah kondisi yang sama, misal jika seorang siswa seringkali berusaha sampai suatu tugas selesai dikerjakannya. Habitual response ini dapat berubah-ubah ataupun dapat menetap. Setelah mengetahui penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk membuat perilaku tertentu atau specific response menjadi sebuah kebiasaan atau habitual response maka perlu adanya pengulangan perilaku tertentu tersebut hingga beberapa kali. Sedangkan jika individu tersebut tidak menginginkan perilaku tertentu itu menjadi sebuah habitual response atau sebuah kebiasaan, maka tidak diperlukan pengulangan perilaku hingga berkali-kali. Dan hubungan serta interaksi juga berlaku pada bagian kepribadian Eysenck yang lain, seperti tipe dan trait. IV. Dinamika Kepribadian Yang disebut dengan dinamika kepribadian adalah mempelajari interaksi antar struktur dari kepribadian tertentu. Dengan menggunakan metode analisis faktor, Eysenck berhasil mengidentifikasi dua dimensi dasar kepribadian yaitu Extraversion dan Neuroticism. Extraversion dan Neuroticism diberikan ruang 2 dimensi untuk menggambarkan perbedaan individu dalam perilaku. Analoginya, Extraversion dan Neuroticism adalah lintang dan bujur menggambarkan titik di muka bumi. Pada prinsipnya, setiap orang dapat ditempatkan dalam ruang dua duimensionalini tetapi dalam tingkatan yang berbeda. Fitur Eysenck adalah pandangannya yang berhubungan dengan Hipocrates dan Gallen yang mengetengahkan empat tipe kepribadian dasar : Melankonis, Plegmatis, Koleris, dan Sanguis. • Tinggi N dan Rendah E = tipe Melancholic • Tinggi N dan Tinggi E = tipe Choleric • Rendah N dan Tinggi E = tipe Sanguine • Rendah N dan Rendah E = tipe apatis V. Proses Terbentuknya Kepribadian Teori kepribadian Eysenck menekankan peran herediter sebagai faktor penentu dalam perolehan trait ekstraversi, neurotisisme, dan psikotisisme (juga kecerdasan). Hal ini sebagian didasarkan pada bukti hubungan korelasional antara aspek-aspek biologis, seperti CAL (Cortical Arousal Level) dan ANS (Automatic Nervous System Reactivity) dengan dimensi-dimensi kepribadian. Namun, Eysenck juga berpendapat bahwa semua tingkah laku yang tampak – tingkah laku pada hirarki kebiasaan dan respon spesifik – semuanya (termasuk tingkah laku neurosis) dipelajari dari lingkungan. Eysenck berpendapat inti dari fenomena neurotis adalah reaksi takut yang dipelajari atau terkondisikan. Hal itu terjadi manakala satu atau dua stimulus netral diikuti dengan perasaan sakit atau nyeri fisik maupun psikologis. Kalau traumanya sangat keras dan mengenai seseorang yang faktor hereditasnya rentan menjadi neurosis, maka bisa jadi cukup satu peristiwa traumatis untuk membuat orang itu mengembangkan reaksi kecemasan dengan kekuatan yang besar dan sukar berubah (diatesis stress model). Sekali conditioning ketakutan atau kecemasan terjadi, pemicunya akan berkembang bukan hanya terbatas pada objek atau peristiwa asli, tetapi ketakutan atau kecemasan itu juga dipicu oleh stimulus lain yang mirip dengan stimulus asli atau stimulus yang dianggap berkaitan dengan stimulus asli. Mekanisme perluasan stimulus ini mengikuti Prinsip Generalisasi Stimulus yang banyak dibahas dalam paradigma behaviourisme. Setiap kali orang menghadapi stimulus yang membuatnya merespon dalam bentuk usaha menghindar atau mengurangi kecemasan, menurut Eysenck, orang itu menjadi terkondisi perasaan takut atau cemasnya dengan stimuli yang baru saja dihadapinya. Jadi, kecenderungan orang untuk merespon dengan tingkah laku neurotik semakin lama semakin meluas, sehingga orang itu menjadi mereaksi dengan ketakutan stimuli yang hanya sedikit mirip atau bahkan tidak mirip sama sekali dengan objek atau situasi menakutkan yang asli. Menurut Eysenck, stimulus baru begitu saja dapat diikatkan dengan stimulus asli, sehingga orang mungkin mengembangkan cara merespon stimuli yang terjadi serta merta akibat adanya stimuli itu, tanpa tujuan fungsional. Eysenck menolak analisis psikodinamik yang memandang tingkah laku neurotik dikembangkan untuk tujuan mengurangi kecemasan. Menurutnya, tingkah laku neurotik sering dikembangkan tanpa alasan yang jelas, sering menjadi kontraproduktif, semakin meningkatkan kecemasan dan bukan menguranginya. Eysenck tidak menutupi kemungkinan adanya pengaruh lingkungan pada kepribadian, seperti interaksi keluarga di masa kecil, tetapi dia percaya pengaruhnya terhadap kepribadian adalah terbatas. VI. Psikopatologi Teori kepribadian Eysenck berkaitan erat dengan teori psikologi dan perubahanperilaku. Jenis gejala atau gangguan psikologis yang cenderung berkembang adalah terkait dengan karakteristik kepribadian dasar dan prinsip-prinsip dari fungsi sistem saraf. Menurut Eysenck, Orang extravert biasanya memiliki level rangsangan cortical (CAL=CorticalArousal Level) yang tinggi , sedangkan introvert biasanya memiliki level rangsangan cortical (CAL) yang lebih rendah. Orang yang mengalami gangguan fobia dan obsesif-kompulsif biasanya adalah orang introvert, sementara orang yang mengalami gangguan keseimbagan mental (misalnya, paralisis histerikal) atau gangguan ingatan (misalnya amnesia) biasanya adalah orang ekstravert. Eysenck juga menemukan hubungan antara dimensi normality-neurocitism dengan autonomic nervous system reactivity. Orang dengan reaktivitas sistem saraf otonom tinggi cenderung mengembangkan gangguan neurotik. Orang yang skor neurotiknya tinggi sering mempunyai kecenderungan reaksi emosional yang berlebihan dan sulit kembali normal sesudah emosinya meningkat. Sebagian besar pasien neurotik cenderung memiliki neurotisisme yang tinggi dan skor extraversion yang rendah. Sebaliknya, penjahat dan orang-orang antisosial cenderung memiliki skor neurotisisme, extravertion dan psychoticism yang tinggi, individu-individu seperti itu menunjukkan pembelajaran yang lemah mengenai norma- norma sosial. VII. Assessment Diantara instrumen-instrumen yang pernah dikembangkannya, ada empat inventori yang pengaruhnya luas, dalam arti dipakai oleh banyak pakar untuk melakukan penelitian atau untuk memahami klien, maupun dalam arti menjadi ide untuk mengembangkan tes yang senada. • Meudley Personality Inventory (MPI), mengukur E dan N dan korelasi antara keduanya. • Eysenck Personality Inventory (EPI), mengukur E dan N secara independen. • Eysenck Personality Questionnair (EPQ), mengukur E,N, P (Merupakan revisi dari EPI, tetapi EPI yang hanya mengukur E dan N masih tetap dipublikasikan) • Eysenck Personality Questionnair-Revised (EPQ-R) revisi dari EPQ.

Bahasa

Bahasa adalah bentuk komunikasi, entah itu lisan, tulisan atau tanda, yang didasarkan pada sistem simbol. Semua bahasa manusia adalah generatif (diciptakan). Penciptaan tidak terbatas adalah kemamuan untuk memproduksi sejumlah kalimat tak terbatas yang bermakna dengan menggunakan seperangkat kata atau aturan. Kualitas ini membuat bahasa merupakan kegiatan yang sangat kreatif. Fenologi adalah sistem suara bahasa. Untuk memperlajari fenologi bahasa, anak harus mempelajari kandungan suaranya dan urutan suara yang diperbolehkan, yang sangat penting untuk kegiatan membaca nanti. Morfologi adalah aturan untuk mengombinasikan morfem, yang merupakan rangkaian suara yang merupakan kesatuan bahasa terkecil. Sebagaimana aturan yang mengatur fenom memastikan urutan suara tertentu terjadi, aturan yang mengatur morfem memastikan bahwa serangkaian suara tertentu terjadi dalam urutan tertentu dan sesuai dengan aturan lainnya. Sintaksis adalah cara kata dikombinasikan untuk membentuk frasa dan kalimat yang bisa diterima. Semantik adalah makna dari kata atau kalimat. Setiap kata punya ciri sematik. Pragmatis adalah penggunaan percakapan yang tepat. Ini melibatkan pengetahuan tentang konteks apa yang dikatakan dan kepada siapa serta bagaimana mereka mengatakannya. Anak-anak mengalami perkembangan bahasa anak-anak tak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis saja, atau faktor sosial saja tetapi kedua faktor tersebut sama-sama saling berinteraksi dan mempengaruhinya. Perkembangan/perilaku anak berdasarkan periode umur 0-6 bulan : sekedar bersuara, membedakan huruf hidup, berceloteh pada akhir periode 6-12 bulan : celoteh bertambah dengan mencakup suara dari bahasa ucap, isyarat digunakan untuk mengkomunikasikan suatu objek 12-18 bulan : kata pertama diucapkan, rata-rata memahami 50 kosakata lebih 18-24 bulan : kosakata bertambah sampai rata-rata 200 buah, kombinasi dua kata 2 tahun : kosakata bertambah cepat, penggunaan bentuk jamak secara tepat, penggunaan kata lampau, penggunaan beberapa preposisi atau awalan 3-4 tahun : rata-rata panjang ucapan naik dari 3 sampai 4 morfem per kalimat, menggunakan pertanyaan "ya" dan "tidak" dan pertanyaan "mengapa, dimana, siapa, kapan", menggunakan bentuk negatif dan perintah, pemahaman pragmatis bertambah 5-6 tahun : kosakata mencapai rata-rata 10.000 kata, koordinasi kalimat sederhana 6-8 tahun : kosakata terus bertambah cepat, lebih ahli menggunakan aturan sintaksis, keahlian bercakap meningkat 9-11 tahun : definisi kata mencakup sinonim. Strategi berbicara terus bertambah 11-14 tahun : kosakata bertambah dengan kata-kata abstrak, pemahaman bentuk tata bahasa kompleks, pemahaman fungsi kata dalam kalimat, memahami metafora dan satire 15-20 tahun : dapat memahami karya sastra dewasa

Kamis, 12 Juni 2014

Pengalaman belajar dengan Pedagogi

Pedagogi adalah pembelajaran yang diperuntukkan untuk anak-anak. Bila dilihat dari pengertiannya maka, pedagogi diterapkan untuk pembelajaran dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Menurut pengalaman saya, saya mendapatkan pembelajaran yang menggunakan pedagogi yaitu dari Sekolah Dasar sampai kepada Sekolah Menengah Pertama. Ketika memasuki Sekolah Menengah Atas, saya merasakan sudah dicampurkan antara pedagogi dengan andragogi (pembelajaran untuk orang dewasa). Ketika diajarkan dengan menggunakan system pedagogi, saya merasa bahwa guru lah yang mempunyai peran yang lebih besar dalam proses belajar-mengajar. Guru yang lebih banyak mengambil peran di kelas maupun di luar kelas. Seperti, guru yang menerangkan semua mata pelajaran dan murid hanya mendengarkannya saja tanpa terkadang diminta untuk memberikan pendapat atau pengetahuannya terhadap pelajaran tersebut. Ketika mengevaluasi bagaimana system belajar-mengajar yang terjadi pun hanya guru yang memberikan tanggapan evaluasi tanpa bertanya pada murid yang merasakan proses belajar-mengajar itu sendiri. Murid pun menjadi memiliki konsep diri yang rendah, seperti pengalaman saya yaitu saya menjadi takut saya dalam menjawab bila guru saya bertanya atau belum pernah dijelaskan oleh guru saya walaupun menurut saya jawaban saya benar. Dan ketika diberi tugas oleh guru saya, saya selalu terus-menerus diingatkan oleh guru saya dengan waktu yang teratur dan diberitahukan konsekuensi nya. Tetapi ketika saya sudah memasuki Sekolah Menengah Atas, sedikit ada yang berbeda dari system pembelajarannya. Di sekolah saya, guru tidak selalu yang menjelaskan mata pelajaran di kelas tetapi guru juga meminta kami yang menjelaskan di depan kelas sesuai dengan topic yang sudah ditentukan. Kami juga diminta untuk mencari bahan lain selain dari buku wajib yang ada di sekolah, entah itu dari internet ataupun buku lain yang di dalamnya terdapat pelajaran tersebut. Dalam mengevaluasi proses belajar-mengajar pun, murid diberikan lembar penilaian untuk menilai seberapa baik proses belajar-mengajar di kelas sehingga bukan hanya guru yang memberikan evaluasi nya. Guru pun sudah cukup memberikan kepada kami untuk menyampaikan pendapat kami di dalam kelas. Dan bila ditanya, saya lebih menikmati sistem pembelajaran yang andragogi karena tidak hanya dari satu pihak saja yang aktif melainkan dua-dua nya ktif dalam proses belajar-mengajar.

Rabu, 11 Juni 2014

Andragogi

1. Pengertian Teori Belajar Andragogi Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno: "aner", dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa, dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogus" artinya membimbing atau memimpin. Dengan demikian secara harfiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak. Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pendidikan atau pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Banyak praktik proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa. Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training/Teaching). 2. Perkembangan Teori Belajar Andragogi Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan. Sebelum muncul Andragogi, yang digunakan dalam kegiatan belajat adalah Pedagogy. Konsep ini menempatkan murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan yang sudah di setup oleh sistem pendidikan, di setup oleh gurunya/pengajarnya. Apa yang dipelajari, materi yang akan diterima, metode panyampaiannya, dan lain-lain, semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid sebagai obyek dari pendidikan. Kelemahannya Pedagogi adalah manusia (dalam hal ini adalah siswa) yang memiliki keunikan, yang memiliki talenta, memiliki minat, memiliki kelebihan, menjadi tidak berkembang, menjadi tidak bisa mengeksplorasi dirinya sendiri, tidak mampu menyampaikan kebenarannya sendiri, sebab yang memiliki kebenaran adalah masa lalu, adalah sesuatu yang sudah mapan dan sudah ada sampai sekarang. Perbedaan bukanlah menjadi hal yang biasa, melainkan jika ada yang berbeda itu akan dianggap sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan. Pedagogy memiliki kelebihan, yakni di dalam menjaga rantai keilmuan yang sudah diawali oleh orang-orang terdahulu, maka rantai emas dan benang merah keilmuan bisa dilanjutkan oleh generasi mendatang. Generasi mendatang tidak perlu mulai dari nol lagi, melainkan tinggal melanjutkan apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dirintis, apa yang sudah dimulai oleh generasi mendatang. Dalam Andragogy inilah, kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop, Pelatihan Outbond,dll, dan dari konsep Pendidikan Andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan. Liberalisme pendidikan bertujuan jangka panjang untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana cara menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif. Liberasionisme pendidikan adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita musti segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik (dan pendidikan) yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Bagi pendidik liberasionis, sekolah bersifat obyektif namun tidak sentral dan sekolah bukan hanya mengajarkan pada siswa bagaimana berpikir yang efektif secara rasional dan ilmiah, melainkan juga mengajak siswa untuk memahami kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka. Secara moral, sekolah berkewajiban mengenalkan dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa. Sekolahpun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pendidikan yaitu sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari ‘yang obyektif’, melalui pengamatan atas kenyataan. Anarkisme pendidikan pada umumnya menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah). Tetapi berbeda dengan liberal dan liberasionis, anarkisme pendidikan beranggapan bahwa harus meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa musti dilakukan untuk membuat masyarakat yang bebas lembaga. Menurut anarkisme pendidikan, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan humanistik berskala besar yang mendesak ke dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan sekalian. 3. Asumsi-Asumsi Pokok Teori Belajar Andragogi Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut: a. Konsep Diri: Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara. Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan. b. Peranan Pengalaman: Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman). Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan. c. Kesiapan Belajar : Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya. d. Orientasi Belajar: Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari. 4. Langkah-Langkah Pokok dalam Andragogi Langkah-langkah pokok untuk mempraktikkan Andragogi adalah sebagai berikut: - Menciptakan Iklim Pembelajaran yang Kondusif: Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk proses pembelajaran, yaitu: 1)Pengaturan Lingkungan Fisik: Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin: a) Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa; b) Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa; c) Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi social. 2)Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologi: Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung. a) Fasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung; b) Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai; c) Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut; d) Mengembangkan semangat kebersamaan; e) Menghindari adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah; f) Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama. 3)Diagnosis Kebutuhan Belajar: Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya: a) Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu; b) Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan; c) Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan; d) Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu. 4)Proses Perencanaan: Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan: a) Libatkan peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain; b) Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan tersebut; c) Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pelatihan; d) Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan. 5)Memformulasikan Tujuan: Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas. 6)Mengembangkan Model Umum: Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai. 7)Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran: Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan; b) Materi pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis; c) Metode dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta; d) Metode dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif. 8)Peranan Evaluasi Pendekatan: evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni: a) Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran/pelatihan; b) Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (Self Evaluation); c) Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan; d) Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat; e) Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program; f) Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku. 5. Perbandingan Asumsi dan Model Pedagogi dan Andragogi Dari uraian tersebut di atas telah diperoleh dan disimpulkan beberapa perbedaan teoritis dan asumsi yang mendasari andragogi dan pedagogi (konvensional) yang menimbulkan berbagai implikasi dalam praktek. Dalam pedagogi atau konvensional, karena berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation) maka implikasi yang timbul pada umumnya peranan guru, pengajar, pembuat kurikulum, evaluator sangat dominan. Pihak murid atau peserta pelatihan lebih banyak bersifat pasif dan menerima. Paulo Freire, menyebutnya sebagai "Sistem Bank" (Banking System). Hal ini dapat terlihat pada hal-hal sebagai berikut: · Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku; · Penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda & teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran; · Pengembangan rencana dan bentuk urutan (sequence) yang standard dan kaku ; · Adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan; · Adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam "menyelesaikan" suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan. Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif, dalam proses belajar yang melibatkan elemen-elemen: · Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri; · Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif; · Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar · Merencanakan pola pengalaman belajar · Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai · Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Ini adalah model proses. Lebih detail tentang perbedaan pedagogik dan andargogi sebagai berikut: Asumsi: Kosep tentang diri peserta didik Pedagogi: Peserta didik digambarkan sebagai seseorang yang bersifat tergantung. Masyarakat mengharapkan para guru bertanggung jawab sepenuhnya untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan, bagaimana cara mempelajarinya, dan apa hasil yang diharapkan setelah selesai Andragogi: Adalah suatu hal yang wajar apabila dalam suatu proses pendewasaan, seseorang akan berubah dari bersifat tergantung menuju ke arah memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri, namun setiap individu memiliki irama yang berbeda-beda dan juga dalam dimensi kehidupan yang berbeda-beda pula. Dan para guru bertanggungjawab untuk menggalakkan dan memelihara kelangsungan perubahan tersebut. Pada umumnya orang dewasa secara psikologis lebih memerlukan penga- rahan diri, walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat tergantung Asumsi: Fungsi Pengalaman peserta didik Pedagogi: Di sini pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik tidak besar nilainya, mungkin hanya berguna untuk titik awal. Sedangkan penglaman yang sangat besar manfaatnya adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari gurunya, para penulis, produsen alat-alat peraga atau alat-alat audio visual dan pengalaman para ahli lainnya. Oleh karenanya, teknik utama dalam pendidikan adalah teknik penyampaian yang berupa: ceramah, tugas baca, dan penyajian melalui alat pandang dengar. Andragogi: Di sini ada anggapan bahwa dalam perkembangannya seseorang membuat semacam alat penampungan (reservoair) pengalaman yang kemudian akan merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain. Lagi pula seseorang akan menangkap arti dengan lebih baik tentang apa yang dialami daripada apabila mereka memperoleh secara pasif, oleh karena itu teknik penyampaian yang utama adalah eksperimen, percobaan-percobaan di laboratorium, diskusi, pemecahan masalah, latihan simulasi, dan praktek lapangan. Asumsi: Kesiapan belajar Pedagogi: Seseorang harus siap mempelajari apapun yang dikatakan oleh masyarakat, dan hal ini menimbulkan tekanan yang cukup besar bagi mereka karena adanya perasaan takut gagal, anak-anak yang sebaya diaggap siap untuk mempelajari hal yang sama pula, oleh karena itu kegiatan belajar harus diorganisasikan dalam suatu kurikulum yang baku, dan langkah-langkah penyajian harus sama bagi semua orang. Andragogi: Seseorang akan siap mempelajari sesuatu apabila ia merasakan perlunya melakukan hal tersebut, karena dengan mempelajari sesuatu itu ia dapat memecahkan masalahnya atau dapat menyelesaikan tugasnya sehari-hari dengan baik. Fungsi pendidik di sini adalah menciptakan kondisi, menyiapkan alat serta prosedur untuk membantu mereka menemukan apa yang perlu mereka ketahui. Dengan demikian program belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan-urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik. Asumsi: Orientasi belajar Pedagogi: Peserta didik menyadari bahwa pendidikan adalah suatu proses penyampaian ilmu pengetahuan, dan mereka memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut baru akan bermanfaat di kemudian hari. Oleh karena itu, kurikulum harus disusun sesuai dengan unit-unit mata pelajaran dan mengikuti urutan-urutan logis ilmu tersebut , misalnya dari kuno ke modern atau dari yang mudah ke sulit. Dengan demikian, orientasi belajar ke arah mata pelajaran. Artinya jadwal disusun berdasarkan keterselesaian nya mata-mata pelajaran yang telah ditetapkan. Andragogi: Peserta didik menyadari bahwa pendidikan merupakan suatu proses peningkatan pengembangan kemampuan diri untuk mengembangkan potensi yang maksimal dalam hidupnya. Mereka ingin mampu menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya hari ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik atau lebih efektif untuk hari esok. Berdasarkan hal tersebut di atas, belajar harus disusun ke arah pengelompokan pengembangan kemampuan. Dengan demikian orientasi belajar terpusat kepada kegiatannya. Dengan kata lain, cara menyusun pelajaran berdasarkan kemampuan-kemampuan apa atau penampilan yang bagaimana yang diharap kan ada pada peserta didik. Sumber referensi: http://www.oocities.org/teknologipembelajaran/andragogi.html